Tuesday, October 25, 2016
Monday, October 24, 2016
Usai
Aku sendiri
Aku merana
Aku menyepi
Aku terluka
Aku tergulai
Aku kecewa
Aku dilanda
Aku dicerca
Aku usai
Aku dibuai
Aku dibuang
Aku dilena
Aku dicampak
Aku muak
Aku jatuh kelak
Aku kalah telak
Kita telah usang
Kita telah usai
Sia-sia
Sia-sia
Sia-sia
Usai
By: Leonardo Masus Turnip
Aku merana
Aku menyepi
Aku terluka
Aku tergulai
Aku kecewa
Aku dilanda
Aku dicerca
Aku usai
Aku dibuai
Aku dibuang
Aku dilena
Aku dicampak
Aku muak
Aku jatuh kelak
Aku kalah telak
Kita telah usang
Kita telah usai
Sia-sia
Sia-sia
Sia-sia
Usai
By: Leonardo Masus Turnip
Saturday, October 22, 2016
Naluri ku Mencari
Naluri ku kini melemah . . .
Tak mampu melawan sakit
Enggan untuk meraih
Takut untuk bangkit
Keping hati tak mau
Memerima pesan logika
Hanya emosi perasaan menguasai
Namun tidak tersampaikan
Bibir ini ingin mencumbu mu
Namun raga enggan menyaut
Naluri ku kini menciut
Mengahadap paras bibir mu yang merah
Aku ingin merasakan kecupan mu
Apa daya itu tak akan terjadi
Bagaikan pelangi yang tak tersentuh hujan
Sulit untuk meraih nya . . .
Mungkin malam ini dapat membantu
Mempertemukan nikmat nya kecupan bibir mu
Sebagai penghias kegelisahan diriku
Dan diri mu . . .
Jika itu terjadi . . .
Akan ku ucapkan terimakasih pada mimpi
Semoga cumbu itu terjadi
Di kehidupan nayata ini. . .
by:Leonardo Masus Turnip
Kasihku
Oh kasihku, kau enggan pergi?
Pergilah, biarkan aku disini
Aku enggan dinanti
Aku enggan menanti
Berkelanalah
Tumpah ruahkan seisi semesta
Pergilah
Biar aku merana
Utaskan janjimu kasihku
Kelak kita bertemu
Dipersemaian waktu
Keabadian yang khusu
Biarkan aku merana
Biarkan kau pun merana
Akan ada jumpa
Menghanyutkan luka
Antara kita
Oh kasihku . . .
by:Leonardo Masus Turnip
Bimbang Antara Hidup
Hidup adalah untaian kata-kata
Seperti sajak para penyair
Seperti filsafat para filsuf
Seperti teori para teoritis
Bagiku hidup hanyalah ruang
Tak dihuni, sangat kosong
Bagiku hidup hanyalah puing
Tersusun lalu terombang-ambing
Aku pilih hidup yang mana?
Aku pilih hidup seperti yang mana?
Apa seperti kata penyair?
Apa seperti kata filsuf?
Apa seperti kata teoritis?
Aku hening, Aku bimbang
Apa hidup yang kosong?
Apa hidup yang hanyalah puing-puing?
Aku hening, Aku bimbang
Tak terbayang
Ah, hidup tetap hanya sekedar untaian kata-kata
Akhirnya pun aku akan kalah
Akhirnya pun aku akan usai
Selesai, hidup
by:Leonardo Masus Turnip
Bidadari Tak Bersukma
Aku manusia pertama yang
memanggil mu bidadari tak bersukma
Yang bersembunyi di balik
pekatnya malam
Hinggap dan berdiam di balik
rembulan
Yang tertutup cakrawala malam
Banyak
yang mencari dan menginginkan mu
Termasuk
aku
Yang memaksa
masuk menembus batas
Meski
tak menemukan mu
Kokoh . . .
Engkau seperti dibentengi oleh
alam
Yang seakan tak membolehkan ku
untuk
Mendekat pada diri mu
Ibarat
semilir angin yang berhembus paras mu
Selalu
merasuk pada sukma jiwaku
Seperti
orang kesetanan diriku
Membayangkan
lekukan senyum di bibir mu
Gejolak jiwa ku kini membara
Hasrat tubuh ku penuh emosi
Bagai keabadian yang baka
Kini hadir mu dalam jiwaku
Seumpama
bayang mu hadir
Akan
ku lukis bayang diri mu
Dengan
seberkas cahaya lilin yang menyala
Meski
bayang mu adalah fana yang abadi
Bagiku
. . .
by:Leonardo Masus Turnip
Bermakna Atau Tidak
Tetesan
hujan
Yang
sedikit tak bermakna
Namun
menyisakan lara
Akan
kerinduan yang tak kunjung mereda
Binar mata sosok dirinya
Membekas . . .
Tatkala dia pancarkan elok tawanya
Mendengar lelucon tak jelas
Seperti angin yang menerpa
Dia hempaskan diriku
Luluh lantah berkeping-keping
Hancur teregores angan
Entah dapat diperbaiki kembali
Diam, dan gelap . . .
Seperti orang sakau
Merasa asing . .
Merasakan hening seorang diri
Secarik kertas putih tergeletak
Yang ku penuhi dengan beberapa kata
Mungkin bermakna
Mungkin juga tidak . . .
Aku simpan secarik kertas itu
Di halaman belakang perjalanan hidup ku
Untuk menjadi sebuah kisah
Yang dapat ku buka kembali
by:Leonardo Masus Turnip
Anomali
Peradaban sudah menyimpang
Realita sudah tak terlihat
Hanya fiksi bertaburan
Benci kesumat oleh nafsu
Kebencian
di tabur insan
Tutur
hakikat tak bernyawa
Hilang
arah ahklak nurani
Batas
suci tak berkembang
Kefanaan
mendoktrin
Kaum manusia
terjerumus
Berbalik
arah
Menentang
persepsi nurani
Dunia sudah tak normal
Merusak akan kawula
Gejolak menjatuhkan
Keadilan dan Kebajikan
Pertentangan
takdir
Retakkan
kedamaian
Memperagung
kemunafikan
Kejahatan
duniawi
Penolakan
merusak harkat
Martabat
terinjak
Merendah kan
golongan
Perkumpulan
visioner
Melelapkan surya
Mengagungkan kelam
Tabir tak terduga
Mendoktrin para kaum golongan . . .
by:Leonardo Masus Turnip
Doa Kepada Tuhan
Ada wanita bekerja malam hari
Melayani para pemilik nafsu
Untuk mengais namanya rezeki
Itukah jalan, harus ditempuh?
Oh Tuhan, inikah hidup?
Itukah jalan?
Pertanyaan seperti apalagi?
Hinakah mereka ya Tuhanku?
Sucikah mereka yang datang?
Setujukah engkau ya Tuhanku?
Aminilah segala doa mereka ya Tuhanku
Tunjukan jalan-Mu ya Tuhanku
Jalan yang penuh kehikmatan daripada-Mu
Lekaskanlah kehendak-Mu ya Tuhanku
Biar semua termangu pada-Mu Tuhanku
Dengan penuh seluruh Tuhanku
Kemasilah dosa-dosa ya Tuhanku
Putihkan seperti embun salju ya Tuhanku
Pada-Mu doa ini tersirat ya Tuhanku
Amin ya Amin Tuhanku
by:Leonardo Masus Turnip
Aku dan engkau
Engkau adalah malaikat
terindahku
Yang dihadiahkan Tuhan
padaku
Dengan segala yang ada
pada dirimu
Dengan segala keindahan
yang menghiasimu
Engkau benderang seperti matahari
Yang bersinar di pagi hari
Aku akan selalu menyayangimu
Dalam ketulusan dan kesetiaan hatiku
Engkau tak perlu khawatir pada hatiku
Karena hatiku telah terbius oleh mu
Dan tak mampu berpetualang pada hati yang
lain
Dan tak mampu menoleh pada hati yang lain
Temanilah aku bersama mimpiku
Mimpi yang ku rajut bersama mu
Mimpi yang akan kita gapai
bersama
Mimpi yang akan hadir dalam nyata
Kuatkan mimpi itu
menjadi mimpi kita
Bukan mimpi ku atau
mimpi mu
Melainkan mimpi kita
Mimpi kita berdua
Bukan
mimpi ku dengan yang lain
Bukan
juga mimpi mu dengan yang lain
Namun
mimpi kita
Mimpi
kita bersama, mimpi kita berdua
Bahagiaku
akan menjadi bahagiamu
Bahagiamu
pun akan menjadi bahagiaku
Bahagia
kita berdua
Bahagia
kita bersamaby:Leonardo Masus Turnip
Aku dan Angin
Aku adalah sebuah lempengan
Yang bila dihempas akan terhempas
Tanpa bisa melawan
Tanpa bisa menerjang
Aku
adalah sehelai daun
Yang
gugur dalam pekatnya malam
Tanpa
tawa
Tanpa
Gairah
Bagaimana
bisa aku berdiri
Menyembunyikan
semua rasa
Menahan
kerasnya gejolak jiwa
Didalam
hati sendiri
Bagaimana
bisa ...
Seorang
yang lemah menjadi kuat
Tanpa
Semangat
Tanpa
Harapan
Ternyata
angin tak sejahat itu
Dia
menangkapku dengan erat
Tak
membiarkanku jatuh begitu dalam
Tak
membiarkanku terhempas begitu saja
Harapannya
hadir kembali
Harapannya
bersinar
Harapannya
tersusun kembali
Dan
aku mulai menggapainya...by: Leonardo Masus Turnip
Sepi, Segelas Kopi
Ini sepi
Ditemani segelas kopi
Dengan aroma menyahdu
Mengalir bersama nadi
Sisi pahitnya terasa
Sisi manisnya berdiam
Hitam seperti kamar gelap
Hitam seperti getir hidup
Ini malam
Tetap segelas kopi
Biar rasanya memudar
Aromanya tetap menyahdu
Segelas kopi lagi
Segelas kopi lagi
Ahh, temanku hidup hanya dia
Temanku yang berasa
Yang bernapas sudah usai
Mungkin hilang ditelan sunyi
By: Leonardo Masus Turnip
Subscribe to:
Posts (Atom)